Selasa, 22 Januari 2013

Blog Polisi: Belajar dari Pelantikan Obama

Blog Polisi: Belajar dari Pelantikan Obama: Apa bedanya dilantik dengan di Sumpah?? Hari ini, ini kali kedua saya menyaksikan penyumpahan Presiden Obama, sebagai Presiden Amerika ...

Sabtu, 04 September 2010

Sukses = Ketekunan + Kreatifitas














Oleh Ade Asep Syarifuddin

TETANGGA sebelah kanan saya adalah seorang tukang jahit. Dia bilang ayahnya, kakek dan neneknya dan para leluhurnya juga tukang jahit. Sudah berpuluh-puluh tahun menjadi tukang jahit. Kondisi kehidupannya tidak kaya, juga tidak miskin. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun kalau ada biaya yang cukup besar terpaksa harus cari utangan. Anehnya, jahitan yang digarapnya adalah order tetap dari seorang juragan. Dengan upah fix cost per satu pakaian Rp 15.000 dari 15 tahun yang lalu tidak juga ada perubahan sampai sekarang. Kayanya merupakan hal yang tabu kalau harus menawar tarif karena dari dulu sudah diberi order tetap. Mereka beranggapan order tetap itu adalah bentuk dari kemurahan dan kebaikan hati sang juragan.

Sementara tetangga sebelah kiri saya juga tukang jahit. Bedanya, dia sekolah tukang jahit di kota besar selama satu tahun. Selain menjahit, juga belajar pola dan desain. Yang dia kerjakan bukan hanya menerima orderan dari seseorang, tapi dia sendiri kadang-kadang mencari orderan. Tarif yang ditawarkan bermacam-macam, kalau hanya menjahit pakaian dengan pola yang sudah ada bisa murah. Kisaran Rp 50.000 saja. Tapi kalau mau membuat pakaian dengan jenis yang lain ada dua harga, pertama harga menjahit dan kedua harga membuat pola sesuai pesanan. Harga membuat pola bisa 3-5 kali lipat harganya. Pekerjaan tetangga saya yang kedua ini belum lama dilakukan. Dia berprofesi sebagai tukang jahit sejak 3 tahun yang lalu. Sebelumnya dia adalah seorang marketing yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi karena perusahaannya bangkrut, dia alih profesi menjadi tukang jahit. Uang pesangonnya digunakan untuk kursus menjahit dan membuat pola. Bisa dibandingkan, tetangga kedua mendapatkan penghasilan jauh lebih besar daripada tetangga yang pertama.

Apa perbedaan penjahit pertama dan penjahit yang kedua? Saya menilai penjahit pertama adalah tipe orang yang tekun, sabar dan nrimo. Sehingga pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak berpuluh-puluh tahun terus diwariskan ke generasi berikutnya. Tapi memang tukang jahit pertama miskin kreatifitas. Sementara tukang jahit yang kedua adalah tipe orang yang kreatif. Dia tidak mau menerima keadaan yang itu-itu saja, dia belajar berbagai macam hal. Bila mendapatkan order atau membeli barang, kalau bisa ditawar kenapa tidak. Tipe yang kedua ini dikategorikan sebagai penjahit yang kreatif sekaligus tekun. Tekun karena dia juga menjalaninya dengan serius, tidak dikerjakan asal-asalan.

Di jaman yang serba berubah seperti sekarang ini, ketekunan saja tidak cukup. Memang ketekunan adalah modal awal untuk mencapai tujuan. Tapi ketekunan tanpa kreatifitas bisa benar-benar berbahaya. Mengapa berbahaya? Kalau mengambil contoh tukang jahit di atas, bila suatu saat tidak ada order menjahit maka mereka bisa-bisa tidak bisa mendapatkan uang, tidak bisa makan dan akibat-akibat lainnya, karena keterampilan mereka hanya satu. Sementara sikap orang kreatif bila terjadi perubahan situasi ekonomi apakah bentuknya sepi order atau hal lainnya, mereka akan mencari jalan keluar dan belajar hal baru. Sehingga walaupun sepi order di bisnis pertama, dia masih bisa melangsungkan pekerjaannya di bisnis yang lain.

MELATIH KREATIFITAS
Kreatifitas itu tidak bisa muncul sendiri, perlu dilatih, diasah dan dilakukan secara terus menerus. Kreatifitas itu pekerjaan otak kanan seperti berimajinasi, membayangkan gambaran-gambaran baru, memvisualisasikan ide-ide spektakuler. Bahkan mengabaikan istilah tidak mungkin. Semuanya bersifat mungkin, kalau orang lain bisa melakukan, dirinya juga bisa melakukan juga. Kalau dalam imajinasi masih tergambar, suatu ketika bisa terwujud. Orang-orang Jepang adalah salah satu contoh orang yang
memiliki kualitas mental tekun dan kreatif. Tekun karena mau melakukan satu pekerjaan sampai selesai, kreatif karena selalu mencari inovasi baru dari waktu ke waktu. Tidak heran kalau produk otomotif seperti motor dan mobil lahir dari tangan-tangan putera negeri Jepang.

Mengapa Jepang sampai memiliki mental seperti itu? Banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor alam cukup dominan, di sana tidak ada sawah, ladang, hutan yang hijau. Jangan harap bisa menanam singkong di Jepang. Gempa bumi pun menjadi langganan Jepang karena letak geografis negeri tersebut berada tepat di antara lempengan bumi. Tapi kondisi yang sulit tersebut memaksa mereka untuk berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dan betul, jalan keluar ditemukan. Pikiran kita bekerja sesuai dengan program si empunya. Bila si empunya pikiran menyuruh untuk mencari solusi atas satu persoalan, jawaban atas persoalan tersebut segera ditemukan. Sebaliknya bila pikiran dibiarkan tidur dan "nganggur" tidak akan ada hasil apapun.

Tengoklah negara Indonesia yang hijau, subur, menanam singkong langsung jadi. Kondisi alamnya benar-benar memanjakan. Nganggur pun masih bisa makan, apakah dengan tebal muka ikut orang tua terus atau meminta kepada teman. Bahkan tidak sedikit yang sudah menikah masih tinggal bersama orang tua dengan berbagai macam alasan, baik alasan ekonomi atau alasan psikologi kangen orang tua. Terlepas dari alasan apapun dengan berbagai macam pembenarannya, kondisi di Indonesia seperti itu memunculkan sikap miskin kreatifitas, tidak berani dengan resiko, comfort zone dan mencari aman. Paradigma yang muncul adalah lebih baik tetap dengan kebiasaan lama walaupun penuh dengan resiko buruk, tapi resiko itu sudah diketahui sejak lama. Orang malas resikonya tidak punya penghasilan banyak, tapi tetap malas karena resikonya sudah diketahui. Sementara untuk melompat keluar zona nyaman resikonya ada dua, gagal dan berhasil. Kalau berhasil tidak ada masalah baru, tapi kalau gagal ini yang repot. Sementara kegagalan di luar zona nyaman sama sekali belum diketahui resikonya akan seperti apa. Demikian kira-kira mengapa paradigma comfort zone senantiasa dipertahankan.

Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, bagaimana supaya bisa keluar dari zona nyaman? Bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan sungguh-sungguh memaksakan diri keluar dari kebiasaan lama sambil belajar. Ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa hidup ini harus berubah terus kalau ingin tetap survival dan selalu bisa menjawab tantangan yang muncul. Sementara cara kedua dengan tingkat resiko yang lumayan tinggi, bisa berhasil bila disikapi secara positif dan bisa juga gagal bila disikapi negatif. Caranya adalah mengalami persoalan hidup yang berat, apakah di PHK, rumah kebakaran, merantau keluar kota, orang tua yang menjadi tumpuan meninggal atau kena tipu orang sehingga kekayaannya ludes. Yang berpikir positif akan memulai lagi dari nol dan terus berjalan sambil terus menerus belajar. Yang menyikapi secara negatif, kejadian tersebut dianggap sebagai kiamat dunia yang membuatnya frustrasi, gila bahkan bunuh diri.

Banyak contoh kasus orang-orang yang berhasil melampaui persoalannya. Hellen Keller misalnya adalah contoh sukses dari orang yang buta dan tuli. Tapi mengapa dia berhasil menempuh pendidikan sampai tingkat Doktor dan menjadi orang yang memiliki kepedulian tinggi pada orang buta dn tuli. Thomas Alfa Edison yang tuli bisa menjadi tokoh besar dalam sains dan contoh-contoh kongkrit lainnya. Tidak ada kaitan antara cacat fisik dengan kesuksesan. Kalau mereka yang cacat bisa sukses, mengapa kita yang memiliki struktur fisik yang normal sangat cengeng dan mudah menyerah. Di sinilah perbedaan mental baja dan mental kerupuk. Dan itu perlu latihan terus menerus untuk memiliki mental baja patang menyerah, apapun tantangan yang muncul bisa dihadapi dengan senyuman. (*)

*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com

Kamis, 04 Maret 2010

Mengubah Kebiasaan dengan NAC















Oleh Ade Asep Syarifuddin

TULISAN ini terinspirasi oleh Buku Anthony Robbins yang berjudul Awaken The Giant Within. Di dalamnya diterangkan tentang cara-cara mengubah satu kebiasaan yang tidak mendukung masa depan kita menuju ke biasaan baik yang mendukung dan memberdayakan masa depan.

Anthony Robbins bercerita tentang pengalaman dirinya beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya begitu gemuk, saya lupa berapa kilogram. Tapi sangat tidak enak dipandang mata. Konon Tony (panggilan Anthony Robbins) sampai segemuk itu karena dia mempunyai neuro asosiatif conditioning (NAC- mengkondisikan asosiasi pikiran ketika melihat atau melakukan sesuatu) yang keliru. Saat itu setiap kali dia melihat restoran, maka yang tergambar di pikirannya adalah makanan yang lezat-lezat yang membangkitkan selera.

Tidak heran tiap kali melihat restoran dia langsung berhenti dan langsung makan. Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di sana, walaupun tidak lapar-lapar amat, kalau melihat restoran dia langsung berhenti dan makan. Akumulasi kebiasaan tersebut bisa ditebak sendiri, badan menjadi gemuk, berjalan susah, duduk susah, pakaian sempit dan tidak nyaman dalam berbagai
kesempatan. Melihat kondisi seperti itu yang tidak nyaman, karena Tony memiliki sebuah cara untuk mengubah kebiasaan, dia ubah asosiasi neuro-nya dengan cara yang berbeda.

Kalau sebelumnya asosiasi neuro-nya ketika melihat restoran terbayang makanan yang lezat-lezat, kini dia ubah ketika melihat restoran bayangan di layar mentalnya, dia melihat kaca yang sangat besar dan di situ terlihat wajah gendutnya yang sangat jelek, penampilannya tidak menarik dan banyak orang yang mencibir. Perubahan asosiasi tersebut cukup ampuh, terbukti ketika melihat restoran bukannya berhenti malah badan dia bergidik melihat penampilannya sendiri dan restoran dilewati saja.

Kasus yang lain, saya pernah mendengar cerita Helmi Yahya ketika dia mengadakan seminar di Purwokerto dengan Siapa Berani Menjadi Entrepreneur. Ketika itu dia bercerita perjalanan kuliah S-2nya di Amerika dengan waktu tercepat, hanya 1 tahun. Padahal teman-temannya bule-bule semua. Dan asosiasi kebanyakan orang bule itu lebih pintar dari orang Indonesia. Dengan tekad yang kuat, Helmy ingin merampungkan kuliah S-2nya dalam waktu 1 tahun.

Kemudian, apa yang dia lakukan untuk terus mendorong semangatnya? Beberapa orang teman bulenya yang memiliki kemampuan rata-rata, tidak kurang dari 5 orang, dia foto dalam keadaan tersenyum. Kemudian dia cetak dan kelimanya ditaro di dinding depan meja belajarnya. Persis ketika belajar kelimanya tersenyum kepada Helmy. Ketika datang rasa malas belajar karena berbagai alasan, Helmy bisa langsung melihat kelima foto tersebut dan Helmy mendengar seolah-olah mereka berkata, "Hai Helmy, kamu kan dari Indonesia, tidak mungkin kamu bisa selesai kuliah S-2 dalam waktu 1 tahun. Pasti kita-kita yang bule-bule ini yang bisa selesai dengan cepat," pikir Helmy melihat foto mereka yang tersenyum.

Langsung reaksi fisiknya berubah. Helmy dengan tegas dan berapi-api ngomong di kamar sendirian, "Tidak, itu tidak benar. Siapa bilang bule lebih pandai dari aku. Aku harus selesai kuliah S-2 dalam waktu satu tahun. Pasti bisa, pasti bisa." Demikian reaksi Helmy setiap datang rasa malasnya. Hal itu dia lakukan terus menerus dan tepat satu tahun Helmy menyelesaikan kuliah S-2nya dengan nilai terbaik.

Luar biasa, kalau kita mengetahui cara otak ini bekerja dan mendorong diri untuk mengubah satu kebiasaan ke kebiasaan lain yang lebih mendukung masa depan kita, nampaknya setiap orang akan mencapai performa terbaiknya. Kita bisa membuat list kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang sederhana-sederhana terlebih dahulu dan secara bertahap kita ubah dari satu kondisi ke kondisi berikutnya.

Contohnya, kita ingin disiplin bangun pagi. Bisa saja membuat gambaran, kalau selalu bangun kesiangan maka macam-macam penyakit akan datang. Atau kalau kesiangan maka kita tidak bisa janji tepat waktu dengan klien yang bisa
menyebabkan order-order dicancel. Bagi pimpinan sebuah perusahaan, sanksi atas ketidakdisiplinan bisa membuat seseorang malu. Contohnya, apabila datang terlambat atau jarang mengikuti rapat-rapat. Dalam pertemuan bulanan diumumkan siapa-siapa saja yang jarang mengikuti rapat dan berapa hari absen dalam rapat. Kalau catatan tersebut diumumkan di forum, maka yang bersangkutan akan menanggung rasa malu yang luar biasa. Dan dipastikan di bulan berikutnya dia tidak akan mau lagi menanggung rasa malu yang besar tersebut di depan teman-temannya. Sementara yang rajin diberi reward atau penghargaan.

Setelah selesai mengubah satu kebiasaan, kita bisa beranjak untuk mengubah kebiasaan berikutnya. Misalnya saja, kreatif dan banyak ide dalam tiap pertemuan, menepati janji, menambah teman baru satu hari satu orang, selalu keluar rumah dengan doa dan membawa jadwal harian, selalu tersenyum setiap bertemu dengan siapapun dll. Apa yang bakal terjadi ketika kita selalu mengubah kebiasaan-kebiasaan baru yang baik? Akumulasi mengubah kebiaasaan tersebut tanpa kita sadari, kita menjadi orang yang hebat dan luar biasa. Istilah asingnya menjadi Great Person. Great Person adalah seseorang yang selalu mengubah kebiasaan menjadi baik dan mempertahankannya tapi tetap merasa harus terus berubah setiap saat.

Budaya ini di Jepang dikenal dengan kaizen (improvement continuously), memperbaiki diri secara terus menerus, tidak pernah berhenti, tidak pernah merasa puas berubah untuk menjadi baik. Selalu berubah ke arah yang lebih baik menjadi visinya. Bagaimana dengan Anda? Bisa jadi Anda sudah menerapkan lebih dahulu prinsip-prinsip di atas, kalau belum mari kita mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Konon katanya, satu kebiasaan akan menetap di alam bawah sadar kita apabila dilakukan 21 hari secara berturut-turut.

Yang perlu dihindari adalah ketika ingin berubah datang godaan. Sebesar apapun godaan yang datang, milikilah prinsip yang kuat, lebih baik kita menunda suatu kesenangan saat demi menyongsong kenikmatan yang panjang di masa yang akan datang. Ketimbang kita tergoda dengan kenikmatan sesaat, tapi akan menjadi penderitaan seumur hidup. Pilih yang mana? Anda yang lebih pandai untuk membuat keputusan. (*)


*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau

http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

Sabtu, 26 Desember 2009

Mulai Lagi Merancang Masa Depan
















Oleh Ade Asep Syarifuddin

Beberapa hari yang lalu saya mencari karet pipih yang lumayan besar dengan panjang dan lebar mirip papan tulis. Tapi agak sulit juga mencarinya. Setelah sekian lama berputar-putar akhirnya ketemu juga walaupun bukan karet yang dimaksud. Saya menemukan styrofoam yang berbentuk white board lumayan lebar 2,5 meter x 1,20 meter. Lumayan besar untuk ditempel di dinding kamar. Saya membeli dua, satu untuk saya dan satu lagi untuk anak saya.

Untuk apa saya membeli semua itu? Ya.... untuk membuat perencanaan, tujuan, impian, dream, keinginan, dll. Di dinding punya anak saya ditulis dengan huruf besar-besar KARYAKU. Sementara di styrofoam punya saya ditulis PAPAN VISI. Saya begitu bergairah untuk menggarap semua itu. Dalam benak saya terbersit harapan bahwa hidup saya akan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Sementara untuk anak saya, saya berharap dia bisa mencapai impian-impian jangka panjang maupun jangka pendeknya.

Apa yang saya tulis di Papan Visi itu? Ya... persis impian-impian yang selama ini ditulis di agenda dan diary yang sulit dilihat setiap saat dalam jangka waktu cukup lama. Sehingga tidak bisa menjadi pemacu maupun pemicu untuk bergerak lebih fokus. Godaan pikiran kan sangat banyak, kita tidak bisa menetapkan fokus dalam jangka waktu lama apabila tidak ada yang mengingatkan, apakah gambar, omongan, ancaman atau hal-hal yang cukup menyentak yang mengkondisikan pikiran apabila tidak dilakukan akan mendapatkan kerugian, rasa sakit, kekecewaan atau apapun bentuk rasa tidak enak di masa yang akan datang.

Saya mulai menulis satu per satu rancangan masa depan mulai dari tujuan tahunan, 3 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 20 tahunan. Apakah terlalu panjang perencanaannya? Bagaimana kalau kita mati di tengah jalan? Mati emang menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Tapi kalau kita merencanakan kematian di sela-sela Papan Visi tersebut, bisa jadi kita tidak akan melanjutkan rancangan tersebut. Kita harus siap mati kapan saja, tapi gak usah dibuat perencanaan secara tertulis. Paling bijak adalah, setiap hari kita mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk menyongsong kematian.

Saya mulai menulis tujuan-tujuan yang besar-besar. Untuk memudahkannya saya buat dalam beberapa kategori: Pertama tujuan-tujuan spiritual-keagamaan, kedua tujuan-tujuan finansial/keuangan, ketiga tujuan-tujuan bisnis/karier dan kepemimpinan, keempat tujuan-tujuan keluarga, kelima tujuan-tujuan pengembangan diri, keenam, tujuan-tujuan petualangan, ketujuh tujuan-tujuan kesehatan, kedelapan tujuan-tujuan sosial kemasyarakatan.

Untuk tujuan spiritual saya tulis sbb: mulai segala aktifitas dengan berdoa. Doa yang saya kutip dari Buku Adi W Gunawan adalah meminta kepada yang kuasa agar senantiasa mensucikan hati dalam berbagai niat, kedua menjernihkan pikiran dalam berbagai kondisi dan meminta untuk memudahkan jalan hidup apapun kondisi jalan tersebut.

Kemudian, tujuan-tujuan spiritual yang lebih kongkrit adalah; menjalankan ibadah di sepertiga malam terakhir secara rutin dan khusuk, menjalankan semua kewajiban secara ikhlas, naik haji ke tanah suci, mengkhatamkan al Quran setiap 3 bulan, menghafal ayat-ayat populer, belajar buku-buku keagamaan, dll.

Untuk tujuan kedua tujuan finansial/keuangan, saya tulis beberapa hal. Pertama, satu tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi, saya memiliki deposito Rp 50 juta, kedua, tiga tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi saya mempunyai deposito Rp 300 juta atau lebih, tiga tahun dari sekarang saya memiliki tanah seluas 1.000 meter atau lebih, lima tahun dari sekarang saya memiliki investasi saham Rp 500 juta atau lebih, selalu memiliki income yang tak terduga dan halal.

Tujuan bisnis dan karier dan kepemimpinan adalah, tiga tahun ke depan perusahaan yang saya pimpin menjadi market leader, laba yang diperoleh perusahaan saya meningkat 50% tiap tahunnya atau lebih besar lagi, saya memiliki tim yang sangat kompak, semangat yang tinggi dan memiliki fighting spirit handal, mental baja pantang menyerah, saya selalu berada dalam kondisi ideal untuk menarik peluang apapun dan selalu siap menjalankannya secara mudah dengan hasil luar biasa.

Tujuan keluarga; setiap liburan saya meluangkan waktu mengunjungi tempat-tempat yang nyaman, indah, sejuk, damai untuk melepas lelah, mendiskusikan segala hal untuk mencapai tujuan-tujuan lebih baik lagi, menjadwalkan untuk memberikan pendidikan yang positif bagi anak.

Tujuan pengembangan diri terdiri dari; meluangkan waktu untuk membaca 2 jam tiap hari, membeli buku-buku yang mendukung pengembangan diri, belajar Bahasa Inggris, menulis artikel rutin mingguan, menulis buku tahunan, mengikuti pelatihan NLP practitioner paling lambat satu tahun menatang dan dilanjutkan ke NLP master practitioner, mengikuti pelatihan hypnosis, hypnotherapy, multiple intelligences.

Tujuan-tujuan petualangan adalah: jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di seluruh Indonesia, tiga tahun yang akan datang atau lebih cepat jalan-jalan ke luar negeri seperti ke Jepang, Eropa, Amerika, Australia dll. Tujuan-tujuan kesehatan; terapi nafas setiap hari selama 30 menit, olahraga rutin seminggu sekali. Dan tujuan terakhir sosial kemasyarakatan adalah, menyumbang panti asuhan, dll.

Ketika saya menulis di Papan Visi tersebut ada passion yang sangat hebat untuk selalu
mewujudkan impian-impian tersebut. Dan dengan sendirinya manajemen waktu pun terkelola dengan rapi. Pikiran kita apabila diarahkan fokus tujuan yang lebih jelas akan mengikuti dengan sendirinya. Semoga impian-impian yang kita tulis bisa menjadi kenyataan yang bisa membawa kepada kebahagiaan hidup sekarang maupun yang akan datang. (*)

Minggu, 04 Oktober 2009

Menebar Kebaikan, Menuai Kesuksesan















Oleh Ade Asep Syarifuddin

BENARKAH setiap kebaikan akan menuai kesuksesan? Ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Tapi sejatinya setiap kebaikan akan berdampak kebaikan. Sebaliknya, keburukan pun akan berdampak pada keburukan pula. Apa yang kita semai itulah yang akan kita tuai.

Ada cerita seorang teman yang sangat menarik. Dia berpendidikan tidak terlalu tinggi, tapi tingkat ketulusan serta investasi kebaikannya jangan ditanya. Apapun yang bisa dia lakukan untuk kebaikan, dia lakukan. Padahal secara harta dia hanya seorang buruh pabrik dengan gaji setara upah minimum kota (UMK). Bisa dihitung sendiri berapa jumlahnya. Padahal dia harus mencicil rumah BTN dan mencicil kredit motornya.

Tak pernah terlihat wajah duka di dirinya. Yang terlihat hanya senyuman tulus yang selalu berkembang ketika suka maupun duka. Tingkat keyakinannya sangat tinggi bahwa ketika melakukan kebaikan dia akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Walapun dia sendiri sadar bahwa balasan atas kebaikan tersebut bisa langsung dirasakan saat itu, bisa juga balasannya kelak. Atau balasannya bahkan diberikan di akhirat nanti.

Secara tidak disengaja saya berbincang-bincang dengan dia tentang perjalanan hidupnya. Ketika muda dulu dia hidup di pesantren. Selain mengaji, dia mengepel rumah kiai, mencuci pakaiannya. Itu dia lakukan dengan tulus. Balasannya memang dia diberi fasilitas makan selama tinggal di sana.

Entah sudah berapa lama dia lakukan itu semua, mungkin tidak kurang dari 3 tahun. Tiba-tiba Kiainya memanggil dia.
"Nak, maukah kau naik haji dengan Pak Kiai?"
Mendengar kata itu dia termenung, bingung, tidak percaya.
"Apakah ini benar Pak Kiai?" tanya dia seolah menyangsikan pembicaraan kiainya.
"Benar, kalau kau mau tahun ini kita berangkat bersama-sama. Ini balasan kamu atas ketulusanmu selama ini. Semoga kamu bisa lebih mensyukuri nikmat yang ada."

Berangkatlah teman saya itu naik haji walapun dia masih bingung dengan keajaiban tersebut. Usianya masih cukup muda, belum punya isteri. Luar biasa.

Waktu terus berjalan. Tidak berhenti sampai di sana. Beberapa tahun kemudian ketika dia pindah ke sebuah rumah BTN, dia mengajari membaca al Quran untuk anak-anak sekitarnya. Anehnya, dia tidak mau sedikit pun menerima bayaran dari mengajari ngaji tersebut. Bahkan yang memberi dia tolak secara halus. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengajari anak-anak," katanya sederhana. Hal itu dia lakukan selama beberapa tahun.

Pernah satu ketika dia bersama istrinya berniat untuk menunaikan ibadah haji. Sampai batas waktu yang ditentukan masih kurang sebanyak Rp 3 juta. Malam harinya dia berdoa kepada Allah Swt supaya diberikan jalan keluar.

Keesokan harinya ada orang tua santri yang belajar ngaji di situ. Kemudian orang tua tadi berkata, bahwa dirinya mau memberikan sesuatu kepada teman saya tadi. Kalau pemberiannya ditolak, anaknya yang mengaji di situ tidak akan melanjutkan ngaji.

Dalam kondisi yang serba salah itu, teman saya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah tamunya pergi dia buka amplop tersebut, ternyata isinya uang Rp 3 juta. Sama persis dengan kekurangan Ongkos Naik Haji (ONH). Dia berlinang air mata, ternyata Yang Maha Kaya mendengar doanya.

Melihat cerita di atas saya termenung dan mengangguk-anggukkan kepala. Bahkan tidak jarang menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Kalau kita mau berbuat baik sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita. Dan kebaikan tersebut bisa disaving (ditabung) untuk kita sendiri. Kebaikan yang kita saving makin lama makin bertambah banyak. Bisa kembali dalam bentuk kebaikan, harta, kedudukan atau ketenangan.

Demikian halnya dengan keburukan, kalau kita melakukannya maka akan menjadi tabungan buruk kita. Dan kalau kita tidak cepat-cepat bertaubat atau meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, tabungan itu semakin hari akan semakin bunga berbunga. Kalau tabungan positig kembali kepada kita itu berkah bagi kita. Sebalikny akalau tabungan negatif yang datang bagaimana akibatnya?

Pembaca mungkin masih ingat dengan cerita seorang penulis buku Jamil Azzaini yang mempunya tabungan negatif kepada ibunya dalam waktu yang lama, sehingga istrinya masuk rumah sakit dan penyakitnya tidak juga diketahui. Sampai-sampai isterinya harus disuntik 3 kali sehari, dengan biaya sekali suntik Rp 12 juta. Baru setelah dia berdoa dia teringat bahwa dia pernah mencuri uang Rp 125 waktu kecil untuk membayar SPP dan jajan.

Ibunya yang tidak mengetahui siapa pencurinya marah besar dan bersumpah tidak akan memaafkan pencuri itu sebelum pencuri minta maaf. Jamil menelepon ibunya dan berkata bahwa dialah yang mencuri uang itu. Jamil meminta maaf, karena akibat dia mencuri tadi isterinya sakit tak kunjung sembuh. Ibunya terkaget-kaget dan dia memaafkan Jamil saat itu juga. Herannya, setelah dia meminta maaf kepada ibunya, dokter berkata bahwa penyakit isteri Jamil sudah diketahui dan obatnya sangat murah.

Melihat cerita di atas kita bisa mengambil kesimpulan betapa kebaikan akan melipatgandakan kebaikan, dan keburukan pun akan mendatangkan keburukan yang lebih banyak lagi. Yang bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas akan sangat hati-hati ketika berbuat sesuatu. Pertanyaan yang harus sering diulang-ulang kepada diri kita sendiri adalah apakah yang akan dilakukannya adalah kebaikan atau keburukan.

Tapi mengapa masih banyak orang yang berbuat buruk, negatif, jelek, menyakiti hati orang lain, korupsi, berbuat maksiat dll. Bahkan setelah ditimpa musibah pun masih saja berbuat negatif. Inilah bedanya orang-orang yang berpikir dan orang-orang yang tidak berpikir. Orang yang punya kepekaan nurani dan orang-orang yang nuraninya tertutup. Akhirnya yang berbicara adalah hukum universal, yang menabur kebaikan akan menuai kebajikan, yang menuai kejelekan akan menuai keburukan. Semuanya harus dipertanggungjawabkan baik di masa kini maupun di masa mendatang. Dan tidak ada satu pun catatan yang tertinggal. (*)

*) Ade Asep Syarifuddin, Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

Kamis, 11 Juni 2009

Keyakinan Itu Berjenjang



Oleh Ade Asep Syarifuddin

SEORANG sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta mengikuti sebuah training. Entah apa yang diberikan di dalam training tersebut sampai-sampai ketika selesai dia memiliki keyakinan yang sangat tinggi. Dia bilang, sekarang dirinya bisa melakukan apapun yang dia mau. Terlihat tatapan matanya antusias, penuh semangat dan sangat enerjik.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi dengan sarjana tadi. Penampilannya jauh berbeda dengan satu bulan yang lalu. Dulu dia sangat semangat, percaya diri dan memiliki keyakinan yang kuat. Tetapi sekarang malah terlihat mengenaskan. Saya coba tanya dia dengan bahasa sederhana, "Apa yang telah terjadi?" Dengan pelan dia mengatakan, semua keyakinannya tidak terwujud karena dia memasang targat terlalu tinggi daripada kemampuan yang dimilikinya.

Ya betul sekali.... keyakinan itu tidak bisa datang dalam waktu sekejap. Butuh waktu dan proses yang cukup lama. Jika keyakinan itu datang dengan cepat, maka hilangnya juga dalam waktu yang cepat pula. Kita tidak bisa memaksakan diri kita meyakini sesuatu secara instant. Pikiran bekerja sangat lembut, tidak bisa dipaksa. Demikian halnya dengan keyakinan yang kita miliki, sangat berjenjang, tidak bisa datang begitu saja.

Mengapa berjenjang? Keyakinan itu ibarat sebuah bangunan. Ada fondasi, ada dinding, ada besi bertulang, baru atapnya bisa berdiri kokoh. Tidak mungkin sebuah gedung langsung bisa dipasang atap tanpa fondasi-fondasi tadi. Demikian halnya dengan keyakinan. Keyakinan tidak bisa datang begitu saja hanya dengan bisikan seseorang.

Bagaimana keyakinan bisa dibangun? Banyak hal yang bisa menumbuhkan keyakinan. Mulai dari sugesti dari teman-teman, melihat kesuksesan orang lain yang menurut kacamata umum dia tidak bisa tapi ternyata bisa. Contoh dari kalimat terakhir adalah Hellen Keller. Hellen adalah penderita tuna rungu dan tuna netra, tapi dia sanggup menggondol gelarPhD (Philosophy of Doctor), gelar akademik tertinggi yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, termasuk orang yang normal secara panca indera.

Bisa juga dari dengan cara menulis kisah-kisah sukses kecil yang pernah kita raih. Anda pernah menjadi ketua kelas? Ya tulislah dalam daftar kisah sukses kepemimpinan Anda; pernah menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketu remaja masjid, ketua BEM di perguruan tinggi dll. Jangan lupa, catat pula torehan prestasi ketika memimpin lembaga-lembaga tadi dari level sederhana sampai level yang paling tinggi.

Dalam prestasi lain apakah Anda pernah meraih juara? Waktu kecil di TK dulu pernah juara mewarnai, di SD juara atletik, lomba menyanyi, lomba baca puisi, di SMP juara lomba pidato, di SMA juara lomba karya tulis, di perguruan tinggi juara debat, dan juara juara yang lainnya. Apakah ini penting? Ya sangat penting, sangat penting untuk menunjukkan bahwa kita memang berprestasi dalam berbagai bidang. Itulah fondasi-fondasi kesuksesan yang bisa mendukung kesuksesan di masa mendatang.

Apakah itu berlaku sebaliknya? Pengalaman buruk masa lalu bisa mengganggu prestasi di masa depan? Ya.... betul. Seseorang yang mengalami pengalaman buruk di masa kecil sangat berpengaruh kelak ketika dewasa. Ada di antara Anda yang benci Matematika? Benci melukis? Dalam sebuah cerita ada seseorang yang sudah cukup dewasa sangat membenci melukis. Setelah ditelusuri ternyata waktu SD dia dimarahi gurunya yang menyuruh melukis seekor gajah, tapi setelah dilukis malah lukisan tersebut sama sekali tidak seperti gajah. Gurunya dengan lantang mengatakan, "Kamu bodoh, tidak bisa melukis, masa gambar gajah seperti ini."

Tidak berhenti sampai di situ, teman-temannya juga meledek. "Masa gambar gajah seperti itu, itu kan kambing bengkak." Di rumahnya juga sama, dia ngadu ke ibunya. Ibunya tidak memperhatikan psikologis anak berkata, "Iya lah nak. Ini bukan gambar gajah. Kamu kok kalau melukis goblok amat sih." Kakak dan ayahnya yang diharapkan bisa mendukung mengatakan hal yang sama sinisnya. Hancurlah sudah keyakinan dirinya dalam kemampuan melukis dan setelah dewasa ia sangat membenci melukis.

Milikilah buku harian kecil yang mencatat prestasi-prestasi kecil tadi. Setiap goresan prestasi merupakan susunan keyakinan. Suatu saat sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi biasanya berpengaruh pada citra diri yang positif dan harga dirinya pun tinggi. Sebaliknya yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, citra dirinya pun negatif.

Dalam kasus yang lain, kita bisa menguji keyakinan kita dalam berbagai macam hal mulai dari persoalan sederhana sampai pada persoalan yang rumit. Contohnya dalam keuangan, seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta per bulan ingin meningkatkan pendapatan. Berapakah keyakinan logis yang bisa diterima oleh akal sehat dan perasaannya? Menurut pengamatan sederhana, kenaikan pendapatan seseorang yang masih dalam kisaran keyakinannya adalah sekitar 20%. Jadi, orang yang

berpenghasilan Rp 1 juta, kalau ingin menambahkan pendapatan, cobalah di level Rp 200.000 penambahannya. Setelah tercapai angka tadi, cobalah naikkan kembali di level 20% dari pendapatan terakhir. Demikian halnya secara berturut-turut. Cara ini jauh lebih aman ketimbang dilakukan dengan cara yang ekstrem. Misalnya saja, dari pendapatan Rp 1 juta, dia ingin menambah Rp 2 juta atau Rp 3 juta. Sah-sah saja keinginan seperti itu, tapi apakah logika pikiran bisa mengijinkan. Apakah perasaan kita nyaman dengan angka tersebut? Andalah sebenarnya yang bisa menjawab secara pasti tentang bisa dan tidak bisanya sesuatu bisa terjadi.

Di sisi lain keyakinan seseorang yang sudah mengalami proses jelas berbeda dengan seseorang yang baru memulai belajar tentang keyakinan akan dirinya. Contoh, seseorang yang sudah memiliki pendapatan Rp 10 juta per bulan akan sangat mudah menaikkan angka Rp 2 juta di bulan berikutnya. Tapi kalau seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta, sangat kecil keyakinan bisa memiliki pendapatan Rp 2 juta di bulan berikutnya.

Akhirnya, lebih baik kita memiliki keyakinan yang bertahap tapi pasti setiap waktu meningkat. Ketimbang kita memiliki keyakinan yang tinggi atau istilah lainnya over confidence tapi ternyata tidak bertahan lama. Manusia itu makhluk yang taat pada hukum proses. Jangan dilampaui hukum proses tadi, kalau kita coba-coba mengambil jalan pintas, akibatnya bakal ditanggung sendiri. Sukses selalu buat Anda. (*)

*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar@gmail.com

Rabu, 03 Juni 2009

Mencari Kambing Hitam


















Oleh Ade Asep Syarifuddin

PAGI-pagi sekali seorang manager menengah di sebuah perusahaan marah-marah. Pengiriman barang lewat jasa kurir belum sampai juga ke alamat tujuan. Di menelepon jasa kurir tersebut dan marah-marah lagi, bagian administrasi yang mengirim pun tidak lepas dari semprotannya. Intinya, ia mencari siapa yang melakukan kesalahan.

Setelah diteliti, ternyata alamat yang diberikan kepada bagian adminsitrasi yang mencatat keliru. Otomatis bagian kurir pun tidak bisa mengirim barang tepat waktu karena alamatnya salah. Bahkan barang tadi harus dikirim balik ke si pengirim. Jadi siapa yang salah dalam kasus ini?

Kambing hitam. Demikian orang banyak menyebutkan ketika ada seseorang yang pekerjaannya selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kayanya sebelum menemukan "kambing hitam" tadi dirinya belum puas. Padahal ketika sudah ditemukan pun dia hanya bisa memaki dan memarahi. Dan persoalan sebenarnya dari kasus tersebut sama sekali tidak selesai.

Mengapa orang mencari kambing hitam? Ini pertanyaan yang harus dilontarkan kepada orang yang masih hobby mencari kesalahan orang lain. Dia pikir dengan mencari kambing hitam dari sebuah kasus maka persoalannya akan selesai. Persis seperti seseorang kehilangan makanan karena dimakan tikus, lantas ketika terlihat tikus mengendap-endap langsung dibunuh.

Mencari kambing hitam dari satu persoalan bukanlah solusi. Apalagi yang mencari kambing hitam itu pemimpin. Bahasa militernya, tidak ada anak buah yang salah, ketika ada kesalahan tetap kesalahan pemimpin. Yang paling sederhana atas kesalahan anak buah adalah, pemimpin tidak memberikan pendidikan kepada bawahannya, sehingga anak buah tidak mengerti job description yang benar. Kalau sudah memberikan penjelasan tapi masih salah, itu urusan yang berbeda.

Selamanya mencari kambing hitam itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Lebih baik masing-masing introspeksi diri sebenarnya kesalahan diri kita sendiri itu di mana letaknya. Sambil berusaha di masa mendatang tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Kalau pemimpin dan anak buah mengubah cara berpikir ketika melakukan kesalahan maka yang muncul adalah solusi dan bukan sebaliknya, pencarian kambing hitam. Sebab pencarian kambing hitam itu selamanya tidak akan menciptakan kondisi yang harmoni.

Pencarian kambing hitam itu identik dengan marah-marah mencari siapa yang salah. Apakah dengan marah-marah tersebut suasana kerja jauh menjadi lebih baik? Tidak... tidak... malahan sebaliknya. yang muncul adalah ketegangan yang bisa menciptakan ketidaknyamanan. Kalau bekerja sudah tidak nyaman, siapapun akan merasakan aura negatif.

Ketika terjadi kesalahan, setiap orang harus mengambil tanggung jawab 100% atas kesalahan tersebut dan berusaha mencari jalan keluar. Pernahkah Anda melihat di sebuah forum, ketika terjadi kesalahan maka ada satu orang yang mengacungkan tangan bahwa kesalahan tadi adalah tanggung jawabnya? Kayanya jarang sekali bahkan nyaris tidak ada. Masing-masing bersembunyi ketakutan. Khawatir kalau-kalau dirinya yang dianggap salah.

Tapi cobalah suatu saat, ketika forum rapat mengevaluasi kesalahan, acungkanlah tangan Anda bahwa Andalah yang bertanggung jawab atas kesalahan tadi. Bagaimana reaksi forum? Kalau Anda pernah melakukan hal itu sudah pasti akan mengetahui jawabannya, tapi kalau belum pernah bisa-bisa Anda sendiri ketakutan. Takut kalau diserang bertubi-tubi, takut kalau dijatuhkan sanksi dan lebih parah lagi takut kalau dipecat.

Padahal kalau kita benar-benar mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa kita yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, forum dan pimpinan rapat pun akan heran. Bisa jadi temanya berubah bukan lagi mencari siapa yang salah, tapi bagaimana mengantisipasi kesalahan di masa mendatang. Tidak percaya? Coba saja.

Masih sedikit dalam kehidupan ini orang yang memegang tanggung jawab 100% untuk orang lain. Bahkan untuk dirinya sendiri. Mau bukti? Pernahkah kita merasa gagal dalam sebuah acara atau sebuah even? Dan masih mencari siapa yang bertanggung jawab. Atau ketika ada serang siswa kelas 3 SMA yang tidak lulus, masihkah dia mencari-cari kesalahan kepada gurunya, orang tuanya? Penyebab siswa yang lulus adalah dirinya bukan orang lain.

Mulai hari ini kalau melihat ada kambing hitam, langsung saja "sembelih". Jangan sampai dilihat oleh para pemburu kambing hitam. Sehingga ketika ada satu kesalahan tak seorang pun berusaha untuk mencari kambing hitam karena kambing hitamnya sudah musnah. Ambillah tanggung jawab 100% atas segala hal yang terjadi baik terasa enak maupun tidak enak. Belajarlah dari kesalahan dan terus memperbaikinya. Dari situ kita bisa belajar banyak tentang berbagai macam hal. Sukses Selalu. Salam damai dan bahagia. (*)

Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bia dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com